RADAR PERTAMA BUATAN ANAK BANGSA

Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil yang dikelilingi luasnya lautan. Hal ini membuat Indonesia memiliki potensi kekayaan bumi yang melimpah, namun juga memberikan resiko dan permasalahan yang besar. Kenyataannya Indonesia menghadapi banyak ancaman dan permasalahan akibat posisi geografisnya, seperti konflik teritorial dengan Negara tetangga, penyelundupan kekayaan alam, pembajakan kapal laut, dan terorisme.

Untuk mengurangi masalah yang ditimbulkan sekaligus membantu memaksimalkan pengawasan dan pengamanan negara, Indonesia memerlukan suatu sistem pengamanan terintegrasi yang diaplikasikan ke dalam bentuk radar. Selama ini teknologi radar dikuasai oleh pihak asing. Bertahun-tahun lamanya Indonesia membeli radar dari negara lain dengan biaya sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhannya.

Beno Pradekso, Direktur Utama Solusi247 menyatakan, “Sudah waktunya teknologi strategis seperti radar, dikuasai oleh sebuah bangsa besar seperti bangsa Indonesia. SOLUSI247 bersama dengan divisi radar RCS-247 (Radar & Communication Systems) berhasil meluncurkan sebuah karya anak bangsa di bidang teknologi radar. Radar buatan anak bangsa ini diberi nama INDRA.

Radar Maritim INDRA dibangun dengan kemampuan mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal di lautan dengan penggunaan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW) yang mampu menghasilkan radar canggih dengan daya pancar sangat rendah. Karena daya pancarnya yang sangat rendah itu INDRA dapat dioperasikan dimana saja dan tidak akan menggangu perangkat-perangkat lain di sekitarnya.

Dalam proses pembangunan INDRA, RCS-247 bekerjasama dengan institusi-institusi riset, pendidikan dan swasta dalam negeri seperti PPET- LIPI, ITB, UI dan IDE. Dalam kerjasama ini, pembangunan INDRA dilakukan sepenuhnya di Indonesia oleh insinyur-insinyur terbaik anak bangsa. Teknologi radar yang diterapkan pada INDRA didukung juga oleh institusi riset IRCTR - TU Delft di Belanda yang memang sudah sejak lama menguasai teknologi ini.

Mengukur dengan Akurat

Pada tanggal 24 Oktober 2008, untuk pertama kalinya INDRA diujicobakan di pantai Cilegon, Banten. Ujicoba ini disaksikan juga oleh Dinas Litbang TNI-AL. Dalam penampilan perdananya, INDRA mengukuhkan eksistensinya sebagai radar maritim. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal yang sedang berlayar di laut dengan akurat.

Dr. Ir. A. Andaya Lestari, Head of Division dari RCS-247 menegaskan, “Tanggal 24 Oktober 2008 merupakan momen bersejarah bagi dunia IPTEK Indonesia. Hari itu untuk pertama kalinya setelah 63 tahun kemerdekaan Indonesia, akhirnya sebuah radar buatan bangsa Indonesia telah berhasil dibangun dan dioperasikan. "Semoga keberhasilan ini turut menyemarakkan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia," kata Andaya.

Saat ini RCS-247 mengembangkan beberapa varian dari radar maritim yaitu Radar Kapal (Marine Radar) dan Radar Pantai (Coastal Radar) yang dapat berfungsi sebagai radar stand alone maupun membentuk jaringan radar. RCS-247 juga telah mengembangkan dan mengoperasikan sebuah Radar Penembus Tanah atau Ground Penetrating Radar (Georadar) yang berfungsi untuk mendeteksi benda-benda yang tertanam di dalam tanah.

"Dengan diluncurkannya INDRA, Indonesia telah berhasil membuat radar sendiri dengan keunggulan yang mampu bersaing dengan radar buatan luar negeri," kata Andaya menambahkan.

Digitalisasi Perlindungan Dokumen Pemerintah

Dokumen pemerintah antara lain bisa berupa Surat Keputusan yang dikeluarkan Presiden, Menteri, Kepala Lembaga, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dokumen tersebut merupakan dokumen penting bagi pemerintah atau yang bersangkutan dengan masa berlaku cukup lama dapat puluhan tahun, jumlah dan macamnya pun cukup banyak. Sehingga akan sulit untuk dikelola secara manual atau tanpa bantuan komputer.

Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pencarian kembali dokumen terssebut diperlukan bantuan perangkat komputer baik software ataupun hardwarenya, sehingga dokumen dapat disimpan secara elektronik, setiap saat dokumen tersebut diperlukan maka dengan mudah dapat ditampilkan dan di cetak. Namun dengan bervariasinya perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dokumen, dapat menghasilkan dokumen dengan format yang berbeda sehingga tingkat interoperabilitasnya menjadi masalah. Begitu juga tingkat keterbacaan dokumen menjadi sulit bahkan tidak dapat dibaca oleh software baru sekalipun.

Hal tersebut merupakan salah satu kondisi saat ini yang sedang dihadapi dan perlu solusi, kondisi lainnya adalah :
(1) setiap orang, akademisi, pemerintah, bisnis dan berbagai komunitas berhubungan satu dengan lainnya,
(2) kebutuhan untuk mengakses data dan domuken semakin tingi,
(3) hampir setiap orang membutuhkan sumber dokumen dari rekan kerjanya,
(4) tidak semua institusi menggunakan software yang sama,
(5) tidak semua institusi menggunakan format yang sama, dan
(6) tidak semua software dapat membuka format software lainnya.

Dengan memperhatikan kondisi tersebut diatas maka munncul permasalahan baru, antara lain
(1) kesulitan mengakses dokumen orang lain,
(2) kesulitan bekerjasama dengan organisasi lain,
(3) kesulitan dalam pertukaran dokumen.

Kesulitan tersebut terjadi antara lain disebabkan oleh:
(1) format dokumen yang bergantung pada software tertentu saja,
(2) software dibuat oleh vendor tententu,
(3) spesifikasi format dokumen hanya diketahui vendor yang bersangkutan saja,
(4) format dokumen sangat bergantung pada kebijakan vendor.

Muncul masalah lain yaitu jika vendor tidak lagi mendukung format lama dan pindah ke format baru maka ribuan bahkan jutaan dokumen dalam format lama tidak terbaca. Jika vendor dan softwarenya sudah tidak eksis lagi maka dokumen yang bertahun-tahun lalu dengan format lama tidak dapat diakses.

Maka solusinya adalah :
(1) menggunakan format yang sama untuk semua software berjenis sama,
(2) semua vendor dan publik tahu spesifikasi format dokumen yang dipakai,
(3) spesifikasi format dokumen mudah dipahami dan diimplementasikan kapanpun diperlukan, (4) meneerapkan keberadaan open standard untuk format dokumen.

Mengapa harus open standard?
Alasannya adalah untuk (1) meningkatkan interoperabilitas,
(2) menghindari adanya vendor lock-in,
(3) menurunkan biaya peneluaran untuk rolayti,
(4) mengendalikan kompetisi developer software,
(5) memungkinkan adanya substitutiability, dan
(6) kebebasan memilih aplikasi software.

Open standard mempunyai karakteristik berikut :
(1) ketersediaan semua spesifikasinya untuk dibaca dan diimplementasikan,
(2) memaksimalkan pilihan aplikasi software,
(3) tidak ada royalti,
(4) tidak ada diskriminasi terhadap vendor tertentu,
(5) dapat dikembangkan menjadi subset standar yang lain,
(6) dapat diimplementasikan di berbagai negara, dan
(7) spesifikasi yang terbuka untuk umum.

Keuntungan bila mengimplementasi format dokumen terbuka adalah :
(1) dapat menghindari adanya monopoli suatu vendor,
(2) memberikan banyak pilihan,
(3) format file benar-benar terbuka, sehingga untuk kedepannya software akan dapat selalu dikembangkan berdasarkan spesifikasi format dokumen yang jelas,
(4) implementasi format dokumen sangatlah efektif dalam hal biaya, dikarenakan setiap aplikasi yang mengimplementasikannya akan menyediakan harga yang kempetitif, hal ini termasuk juga dalam solusi open source, sangat membantu para pengguna dengan tidak harus membeli software tertentu untuk dapat mengakses informasi yang diinginkan.

Kendala bila menggunakan format dokumen terbuka adalah :
(1) masa adaptasi, merupakan suatu hal baru untuk diimplementasikan seiring sebagian besar para pengguna yang sudah kompatibel dengan aplikasi software tententu,
(2) turunnya tingkat produktifitas kinerja, dengan adanya permasalahan seperti dibutuhkannya adaptasi software yang terlalu lama makan akan menimbulkan dampat negatif yaitu akan turut menurunnya tingkat produktifitas kinerja.

Sebagai suatu gambaran bagaimana kebijakan di Luar negeri untuk mengadopsi format dokumen terbuka. Dimulai dengan adanya gagasan mengenai diperlukannya suatu format dokumen standar untuk pertukaran dokumen antar menteri/lembaga yaitu ODF (Open Docoment Format) sesuai ISO ( International Standard Organization) yang berlaku. Kemudian di bentuk Tim untuk mendiskusikan kriteria yang akan dijadikan standar format dokumen. Pengambilan keputusan dilakukan pemerintah untuk menggunakan ISO sebagai format dokumen dengan syarat bahwa kondisi pada saat menggunakan ODF harus kompatibel dengan sistem yang ada sebelumnya; tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan kabijakan sejalan dengan perkembangan format ISO; perubahan implementasi harus membawa efek positif bagi pemerintahan.

Salah satu solusi untuk melindungi dokumen pemerintah adalah dengan menggunakan dokumen yang sama dengan mengacu pada format yang berlaku secara internasional. Misalnya untuk aplikasi perkantoran dapat menggunakan Open Document Format (ODF) yang sudah di sahkan oleh International Standard Organization (ISO) dan International Electrotechnical Commission (IEC) No. 26300 pada tanggal 3 Mei 2006. ODF mendukung pengambilan informasi dan pertukaran domuken tanpa harus berhubungan dengan aplikasi atau platform yang digunakan ketika membuat dokumen tersebut. Ekstensi format file untuk perkantoran ini meliputi .odt untuk format teks pada wordprocessing, .odp untuk format data presentasi, .ods format data untuk spreadsheet, .odg format data untuk grafik, dan .odf format data untuk formula persamaan matematika.

Mesothelioma

This is about 'Mesothelioma'...

Mesothelioma is a form of cancer that is almost always caused by previous exposure to asbestos. In this disease, malignant cells develop in the mesothelium, a protective lining that covers most of the body's internal organs. Its most common site is the pleura (outer lining of the lungs and internal chest wall), but it may also occur in the peritoneum (the lining of the abdominal cavity), the heart,[1] the pericardium (a sac that surrounds the heart) or tunica vaginalis.
Most people who develop mesothelioma have worked on jobs where they inhaled asbestos particles, or they have been exposed to asbestos dust and fiber in other ways. Washing the clothes of a family member who worked with asbestos can also put a person at risk for developing mesothelioma.[2] Unlike lung cancer, there is no association between mesothelioma and smoking.[3] Compensation via asbestos funds or lawsuits is an important issue in mesothelioma (see asbestos and the law).
The symptoms of mesothelioma include shortness of breath due to pleural effusion (fluid between the lung and the chest wall) or chest wall pain, and general symptoms such as weight loss. The diagnosis may be suspected with chest X-ray and CT scan, and is confirmed with a biopsy (tissue sample) and microscopic examination. A thoracoscopy (inserting a tube with a camera into the chest) can be used to take biopsies. It allows the introduction of substances such as talc to obliterate the pleural space (called pleurodesis), which prevents more fluid from accumulating and pressing on the lung. Despite treatment with chemotherapy, radiation therapy or sometimes surgery, the disease carries a poor prognosis. Research about screening tests for the early detection of mesothelioma is ongoing.
Signs and symptoms
Symptoms of mesothelioma may not appear until 20 to 50 years after exposure to asbestos. Shortness of breath, cough, and pain in the chest due to an accumulation of fluid in the pleural space are often symptoms of pleural mesothelioma.
Symptoms of peritoneal mesothelioma include weight loss and cachexia, abdominal swelling and pain due to ascites (a buildup of fluid in the abdominal cavity). Other symptoms of peritoneal mesothelioma may include bowel obstruction, blood clotting abnormalities, anemia, and fever. If the cancer has spread beyond the mesothelium to other parts of the body, symptoms may include pain, trouble swallowing, or swelling of the neck or face.
These symptoms may be caused by mesothelioma or by other, less serious conditions.
Mesothelioma that affects the pleura can cause these signs and symptoms:
• chest wall pain
• pleural effusion, or fluid surrounding the lung
• shortness of breath
• fatigue or anemia
• wheezing, hoarseness, or cough
• blood in the sputum (fluid) coughed up (hemoptysis)
In severe cases, the person may have many tumor masses. The individual may develop a pneumothorax, or collapse of the lung. The disease may metastasize, or spread, to other parts of the body.
Tumors that affect the abdominal cavity often do not cause symptoms until they are at a late stage. Symptoms include:
• abdominal pain
• ascites, or an abnormal buildup of fluid in the abdomen
• a mass in the abdomen
• problems with bowel function
• weight loss
In severe cases of the disease, the following signs and symptoms may be present:
• blood clots in the veins, which may cause thrombophlebitis
• disseminated intravascular coagulation, a disorder causing severe bleeding in many body organs
• jaundice, or yellowing of the eyes and skin
• low blood sugar level
• pleural effusion
• pulmonary emboli, or blood clots in the arteries of the lungs
• severe ascites
A mesothelioma does not usually spread to the bone, brain, or adrenal glands. Pleural tumors are usually found only on one side of the lungs.

About this blog